Kamis , 21 Oktober 2021

RI Punya Potensi Cadangan Minyak 7,5 Miliar Barel Masih ‘Perawan’

Indonesia memiliki potensi minyak yang besar. Namun, potensi itu belum dijamah atau tersentuh alias masih perawan hingga saat ini.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat potensi cadangan minyak sampai 7,5 miliar barel. Sehingga, peluang investasi masih besar.

Sejalan dengan itu, SKK Migas beserta kementerian terkait menyiapkan strategi agar investasi masuk sehingga produksi meningkat.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menerangkan, Indonesia punya 128 cekungan migas. Dari 128 itu, baru 54 cekungan yang dieksplorasi.

“Dari 54 ini baru 18 yang berstatus production,” kata Dwi dalam acara Sarasehan Migas Nasional ke-2 di kantornya, Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Lanjutnya, cadangan minyak Indonesia saat ini tercatat 3,8 miliar barel. Kemudian, dari sisa cekungan yang belum dieksplorasi yakni sebanyak 74 cekungan menyimpan potensi minyak 7,5 miliar barel.

“Cadangan 3,8 miliar barrel, dari 74 yang belum tersentuh potensi minyak buminya 7,5 miliar barel. Jadi masih ada di dalam sana sebuah potensi sangat besar,” ungkapnya.

Dwi bilang, ke depan tren penemuan migas akan terjadi perubahan. Dari semula di darat (onshore) menjadi offshore. Meski begitu, Dwi mengungkapkan masih banyak potensi migas yang ada di daratan.

“Ke depan akan berubah paradigma dari lapangan onshore yang berumur tua, ke daerah lepas pantai dan laut dalam meskipun yang onshore ternyata masih punya potensi. Temuan Sakakemang dan sekitarnya dan sedang eksplorasi di dekat Sakakemang, entah nyambung atau yang lain,” ungkap Dwi.

Dwi melanjutkan, produksi minyak ditargetkan 1 juta barel per hari di 2030. Sejumlah strategi pun diterapkan mulai saat ini untuk mengejar target tersebut.

Strategi pertama ialah menjaga penurunan produksi sebanyak 20% secara natural. Caranya, dengan mendorong berjalannya proyek berjalan tepat waktu. Dia pun mencontohkan proyek kilang gas alam cair Tangguh 3 yang molor sampai setahun.

“Kami melihat sangat besar kondisi lalu, proyek-proyek yang ada itu terlambat cukup panjang, kalau pengendaliannya lebih baik dalam hal operasi eksisting itu keterlambatan itu nggak bisa terlalu panjang. Contoh Tangguh 3 yang terpaksa delay 1 tahun. Saya kira tidak boleh terjadi dalam proyek 3-4 tahun tapi terlambat satu tahun. Sudah 30% kerugian pasti meningkatkan biaya investasinya dan larinya coat recovery,” paparnya.

Strategi kedua ialah mempercepat produksi di mana di dalamnya juga mengoptimalkan proses perizinan.

“Khususnya potensi Pertamina dan wilayah kerja lain, bagaimana mengupayakan dan standar proses perizinan yang dilakukan Kementerian sudah sangat optimum dan kami SKK mendorong dan identifikasi potensi itu dan diskusi operator wilayah itu,” terangnya.

Ketiga, SKK mendorong pemanfaatan teknologi enhanced oil recovery (EOR) yakni metode yang digunakan untuk mengangkat cadangan minyak pada suatu sumur yang selama ini tidak diproduksi. Dengan EOR dan berbagai strategi lainnya diharapkan produksi minyak tembus 1 juta barel per hari di 2030.

“Ketiga pemanfaatan EOR. Kami terus mendorong upaya implementasi EOR, gambarannya 2020 yang speed up sudah harus berpengaruh percepatan menambahkan. Kalau decline sudah kita hindari, perkecil. Dan kami harap memang sudah sama saling tahu bahwa di 2023. Bahwa target 1 juta 2030-2033 kita bisa ke sana. Jadi EOR bisa pengaruh 2023,” ungkapnya.

Kemudian ialah mendorong eksplorasi itu sendiri. Dwi mengatakan, dengan skema yang ada saat ini sudah ada US$ 2,4 miliar dana tersedia untuk pengembangan cadangan.

“Terakhir adalah eksplorasi. Itu kami punya harapan, karena sekarang ada komitmen cadangan pengembangan US$ 2,4 miliar yang di-spend untuk pengembangan dan saya kira ini sudah di atas Rp 30 triliun untuk mengaktifkan kegiatan eksplorasi ke depan,” tutupnya.

sumber : detik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *