Kamis , 21 Oktober 2021

Ribuan Siswa tidak Punya Gedung Sekolah

RIBUAN siswa tingkat atas baik SMA negeri (SMAN) maupun SMK negeri (SMKN) di Kota Bekasi terpaksa menumpang belajar di gedung sekolah lain. Hingga saat ini, delapan sekolah negeri yang dibentuk tahun lalu lewat program Unit Sekolah Baru (USB) belum juga memiliki gedung sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi Ali Fauzi mengatakan 3.428 siswa, yakni 2.880 siswa SMAN dan 1.148 siswa SMKN, menumpang belajar di gedung sekolah lain setiap harinya.

Dia mengakui pemerintah belum mampu menyediakan lahan untuk delapan gedung sekolah, yakni SMKN XII, SMKN XIII, SMKN XIV dan SMKN XV, serta SMAN XIX, SMAN XX, SMAN XXI, dan SMAN XXII.

“Harga tanah di Kota Bekasi terbilang tinggi, apalagi di tengah kota, akhirnya terpaksa masih belajar menumpang di sekolah lain,” ujar Ali, Rabu (19/7). Berdasarkan survei yang dilakukan, menurutnya, harga termurah tanah di Kota Bekasi bisa mencapai Rp1 juta per meter persegi. “Itu pun sudah di pinggir kota,” imbuh Ali.

Ali mengakui sebagian besar dari delapan sekolah itu sudah dibentuk sejak Tahun Ajaran (TA) 2016-2017 dalam program USB yang dilakukan pemkot sebagai komitmen menambah jumlah sekolah di Bekasi.

“Rata-rata sekolah tersebut sudah berjalan dua tahun ajaran, bahkan khusus untuk SMK Negeri XII siswanya sudah sampai siswa kelas III,” kata Ali. Meski demikian, hingga kini pemerintah baru bisa menyediakan dua lahan, yakni di Kecamatan Pondok Gede untuk gedung SMKN XII dan di Kecamatan Mustika Jaya untuk gedung SMKN XV.

Pembangunan SMKN XII dibiayai corporate social responsibility (CSR) dari salah satu perusahaan swasta di Kota Bekasi. Sementara itu, untuk pembangunan gedung SMKN XV, pemkot masih menunggu bantuan pendanaan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat.

“Meski demikian, kami siap membantu Pemprov Jabar untuk membangun gedung, apalagi kalau tanahnya sudah ada. Karena yang sulit adalah penyediaan lahannya,” jelas Ali.

Kelas darurat

Sistem menumpang di gedung sekolah lain yang sudah ada memerlukan pengaturan khusus. Salah satu sekolah yang menampung siswa USB itu ialah SMKN I. Kepala SMKN I I Made Supriyatna mengatakan saat ini di SMKN I tersedia sebanyak 44 ruang belajar nonpraktik. Enam di antaranya sengaja dipersiapkan untuk ruang belajar siswa SMKN XIII.

“Kita terapkan sistem moving class agar siswa tidak tumpang tindih,” kata dia.
Dengan sistem itu, menurutnya, ruangan secara fleksibel dapat digunakan ketika siswa kelas aslinya sedang melakukan praktik.

Bagi siswa SMK, jelas Made, porsi pelajaran memang lebih besar praktik ketimbang teori praktik, dengan perbandingan 70 : 30. “Untuk Sabtu, kami menerapkan satu hari penuh ruang praktik khusus digunakan untuk siswa dari SMK Negeri XIII,” tambahnya.

Ia bahkan menyulap lahan parkir mobil sebagai ruang darurat untuk laboratorium praktik teknik sepeda motor bagi siswa SMK XIII. “Kami atur supaya ruangan bisa digunakan siswa dari dua sekolah. Meski kadang kewalahan, kita mencoba supaya tidak ada permasalahan dan hak siswa tidak ada yang dikurangi,” tukas Made.

(mediaindonesia.com-gan/j-4)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *