Jumat , 17 September 2021

“Saya Akan Tetap Berdemo, Lebih Baik Langsung Mati daripada Mati Perlahan”

“Kami ingin kesetaraan hak, kami ingin perempuan dalam pemerintahan,” puluhan perempuan berteriak menyerukan tuntutan mereka ketika mereka berunjuk rasa di Kabul, Afghanistan kemarin.

Sehari sebelumnya, Taliban mengumumkan pemerintahan Afghanistan yang baru. Tidak ada perempuan di dalamnya, dan mereka telah menghapus kementerian urusan perempuan.

“Kami tidak dapat menerima ini, dan itu mengapa berunjuk rasa,” kata Sara (nama samaran) kepada BBC. Ini merupakan demo kedua yang dia ikuti dalam seminggu terakhir.

“Kami berbaris dengan damai. Kemudian saya melihat empat sampai 5 kendaraan dengan 10 pejuang Taliban di masing-masing kendaraan tersebut, mengikuti kami,” jelas Jia (nama samaran), pendemo lainnya.

Para wanita tersebut mengatakan mereka dihentikan, dicambuk, dan dipukul dengan tongkat sengatan listrik.

“Mereka menghantam pundak saya dua kali. Saya dapat merasakan sakit di seluruh tubuh saya. Masih terasa sakit dan saya tidak dapat menggerakan tangan saya,” ucap Jia. “Mereka juga menggunakan banyak kata-kata kasar dan melecehkan kami. Terlalu memalukan bagi saya untuk mengulang kata-kata itu.”

“Kami semua dipukul. Saya juga dipukul. Mereka menyuruh kami pulang dan mengatakan di sanalah tempat perempuan,” ucap Sara, seperti dilansir BBC, Kamis (9/9). Ponselnya dilempar oleh militan Taliban ketika dia berusaha untuk mengambil gambar.

Taliban mengatakan mereka berkomitmen terhadap hak-hak perempuan dan tidak melarang perempuan menempuh pendidikan atau bekerja.

Namun sejak mereka menguasai Kabul pada 15 Agustus, mereka telah meminta seluruh perempuan, kecuali mereka yang berada di sektor kesehatan publik, untuk tidak usah bekerja sampai situasi lebih aman.

Keamanan merupakan salah satu alasan untuk mencegah wanita bekerja ketika mereka berkuasa pada 1990-an, dan ada banyak orang seperti Sara yang merasa saat ini tidak akan ada perbedaan.

Sara bekerja sebagai seorang penasihat divsebuah departemen pemerintah, dan juga menjalankan bisnisnya sendiri. Dia mengatakan keluarganya khawatir akan hidupnya.

“Mereka melarang saya ikut demo. Mereka [Taliban] akan membunuh kamu. Saya bertengkar dengan kakak saya untuk mengikuti demo kemarin. Saya tidak takut. Saya akan tetap melakukannya lagi dan lagi dan lagi, sampai mereka membunuh kami. Lebih baik langsung mati daripada mati perlahan.”

Jia sudah menikah dan memiliki empat anak, termasuk seorang bayi baru lahir. Dia mengatakan keluarganya mendukung dirinya untuk demo. “Taliban tidak akan berada di sini hanya untuk beberapa hari. Mereka akan berkuasa dalam waktu lama. Kita harus menuntut hak kita, tidak hanya untuk kita, tetapi untuk generasi kita yang selanjutnya, anak-anak kita,” jelasnya.

“Kami tahu Taliban akan menemukan kami dan menargetkan kami. Tapi kami tidak memiliki pilihan. Kami harus tetap melanjutkannya.”

Selama unjuk rasa di Herat pada awal pekan ini, tiga orang dibunuh. Kelompok Taliban melepaskan tembakan ke udara untuk membubarkan massa. Ada banyak video beredar memperlihatkan militan Taliban menganiaya pendemo dengan cambuk.

Wartawan yang meliput demonstrasi juga diserang. Dan beberapa hari ini Taliban terlihat menjadi semakin brutal.

Etilaatroz, sebuah kantor berita di Afghanistan yang menerbitkan koran, mengatakan lima jurnalisnya ditahan kemarin. Dua dari mereka dipukul dengan keras menggunakan kabel, mereka butuh perawatan di rumah sakit.

Anelise Borges, seorang koresponden untuk Euronews, mengatakan kepada BBC seorang rekan Afghanistannya ditahan oleh Taliban selama lebih dari tiga jam pada Rabu kemarin, ketika mereka memohon izin untuk mengambil gambar pada demonstrasi tersebut.

“Dia ditampar di wajahnya beberapa kali. Dia samapi tercengang. Ponsel dan dompetnya disita,” jelasnya.

Reporter magang: Ramel Maulynda Rachma [pan] (merdeka)

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *