Kamis , 9 Desember 2021

Singapura Terancam Gelap Gulita, Minta Bantuan ke RI

Singapura saat ini terancam krisis energi yang akan berdampak pada pasokan listrik di negara tersebut. Hal ini terjadi akibat terganggunya pasokan gas ke negara tetangga RI tersebut.

Sebagai dampak dari mulai terbatasnya pasokan gas alam, beberapa perusahaan produsen listrik mulai menyatakan akan keluar dari bisnis listrik di Singapura. Pekan lalu, Ohm Energy dan iSwitch menyatakan akan menghentikan operasinya dan telah mengembalikan rekening pengguna ke SP group, perusahaan listrik milik negara di Singapura.

Secara total, setidaknya saat ini sudah ada tiga perusahaan mengaku akan keluar dari bisnis listrik di Singapura. Negara ini memang telah meliberasi listrik sejak 2018, dengan meluncurkan sistem Pasar Terbuka (OEM).

Lalu apa yang akan dilakukan Singapura dalam menyiasati hal ini?

Guna mencegah Singapura ‘gelap gulita’, pemerintah pun berencana untuk mulai mengimpor tenaga listrik dari negara sekitarnya. RI menjadi salah satu negara yang akan mengirimkan listriknya ke sana.

Pemerintah Singapura berencana untuk mulai mengimpor tenaga listrik dari negara sekitarnya. RI menjadi salah satu negara yang akan mengirimkan listriknya ke sana.

Nantinya Singapura akan mengimpor sebanyak 100 megawatt (MW) pasokan listrik dari pembangkit tenaga surya yang berlokasi di Pulau Bulan, Provinsi Kepulauan Riau. Ini akan dimulai pada 2024 mendatang.

“Uji coba ini memungkinkan kami untuk mempelajari dan meningkatkan sistem dan proses kami saat kami meningkatkan impor kami,” kata Gan dalam pidatonya di acara Singapore International Energy Week sebagaimana dikutip Reuters.

“Kami juga akan mengimpor berbagai jenis energi rendah karbon dari berbagai belahan dunia untuk mendiversifikasi sumber kami dan meningkatkan keamanan energi.”

Untuk tahapan teknis, nantinya konsorsium yang dipimpin oleh perusahaan pembangkit listrik Pacific Light Power akan menghubungkan pembangkit listrik tenaga surya di Pulau Bulan ke pembangkit listrik Pacific Light Power yang berada di Singapura.

Selain dengan RI, negara pusat keuangan Asia itu juga akan mengimpor listriknya dari Malaysia. Kapasitas yang diimpor dari negara persekutuan itu juga mencapai 100MW.

Kondisi kelistrikan Singapura sendiri tidak dapat dilepaskan oleh Indonesia. Negara yang menggunakan gas sekitar 95% dalam penggunaan listriknya itu diketahui mendapatkan pasokan mayoritasnya, dari RI.

“Sekitar 60% pasokan gas mereka dari Indonesia,” kata Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute ke CNBC Indonesia beberapa waktu lalu.

Sebagaimana diketahui, tingginya permintaan gas alam dunia menjadi penyebab krisisnya suplai gas ke Singapura dan berdampak pada meroketnya harga listrik. Hal ini terjadi sejak pembukaan dunia pasca lockdown akibat pandemi Covid-19.

Sebagai dampak dari mulai terbatasnya pasokan gas alam, beberapa perusahaan produsen listrik mulai menyatakan akan keluar dari bisnis listrik di Singapura.

Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *