Breaking News

Spanyol Berada di Zona Waktu yang Salah

Jika Anda orang yang telah mengunjungi Spanyol, mungkin Anda mengetahui tentang salah satu budaya yang paling terkenal, yakni mereka makan malam sangat terlambat, sekitar pukul 10 malam. Kemungkinan Anda akan berasumsi, mereka tidak terburu-buru makan, dan ingin menikmati makanan. Namun, itu bukan alasan sebenarnya jadwal makan malam mereka berjalan sampai larut malam.

Dilansir dari laman Time Rabu (20/9), orang-orang Spanyol telah tinggal di zona waktu yang salah, pada wilayah mereka selama 70 tahun terakhir karena sejarah politik mereka yang rumit. Spanyol berada pada garis bujur yang sama dengan Inggris, Portugal, dan Maroko, yang berarti harus berada di bawah GMT (Greenwich Mean Time). Tapi Spanyol sebenarnya berada pada jadwal yang sama dengan Belgrade, Serbia, yang berlangsung di Eropa Tengah, sekitar 1.553 mil.

Mengapa bedanya?

Semuanya kembali ke Perang Dunia II. Kembali pada 1940, diktator negara itu, Jenderal Francisco Franco memajukan waktu satu jam daripada seharusnya untuk bisa berbaris dengan orang-orang di Nazi Jerman. Ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas. Akibat perubahan jam tersebut, terjadi banyak perubahan termasuk pola jam makan.

Perang berakhir, Nazi kalah, dan meskipun Franco meninggal pada 1975, jam tidak pernah kembali ke waktu yang tepat. Bahkan program televisi primetime mereka berjalan dari pukul 10 malam, sampai tengah malam.

“Fakta bahwa waktu di Spanyol tidak sesuai dengan matahari mempengaruhi kesehatan, terutama tidur. Jika kita mengubah zona waktu, matahari akan naik satu jam lebih awal, dan kita akan bangun lebih alami, waktu makan akan satu jam lebih awal dan kita akan mendapatkan ekstra jam tidur,” kata president of the National Commission for the Rationalization of Spanish Schedule, Jos Luis Caseros.

Negara ini sedang dalam perjalanan untuk kembali ke jadwal yang benar walaupun, pada 2016, Perdana Menteri Mariano Rajoy mengumumkan rencana untuk melakukan beberapa perubahan pada hari kerja Spanyol. Perubahan memungkinkan hari kerja berakhir lebih cepat, dan mendapatkan kembali ke zona waktu asli mereka.

republika.co.id (rossi handayani/esthi maharani)