Minggu , 28 November 2021

Survei Median: PTM Dilakukan Saat Semua Siswa Sudah Divaksin

Lembaga survei Median menyatakan, lebih dari setengah orang tua merasa waktu yang tepat untuk pembelajaran tatap muka (PTM) dilakukan ketika semua guru sudah divaksinasi. Pendapat itu merupakan hasil survei terbaru yang dilakukan Median.

Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun mengatakan, orang tua merasa PTM dapat dilakukan apabila semua siswa sudah tervaksin. Di posisi kedua, kata dia, orang tua merasa waktu yang tepat untuk PTM dilaksanakan adalah ketika anak-anak sudah divaksinasi.

“Di sini bisa kita temukan bahwa memang logika vaksinasi ini sepertinya menjadi pikiran di kepala orang tua ya. Dari tiga besar, 54 persen menyatakan sebaiknya (PTM) dimulai kalau semua guru sudah divaksinasi,” kata saat konferensi pers daring di Jakarta , Kamis (9/9).

Dalam melakukan penelitian, Median menetapkan sebanyak 1.000 responden yang merupakan warga Indonesia pemilik hak pilih dan berusia 17 tahun ke atas. Adapun margin of error survei kurang lebih tiga persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Pengambilan data dilakukan pada 19-26 Agustus 2021, dan sampel yang terpilih dipilih secara acak dengan teknik multistage random sampling dan proporsional atas populasi provinsi dan gender.

Rico menjelaskan, sebanyak 53,3 persen responden yang menyatakan PTM tepat diadakan saat anak-anak sudah menjalani vaksinasi. Meski begitu, menurut Rico, hal itu menjadi persoalan karena anak-anak yang dapat divaksin baru yang berusia 12 tahun ke atas.

“Tidak semua anak itu bisa divaksin kan karena yang bisa divaksin itu baru yang di atas 12 tahun, bagaimana dengan anak-anak sekolah yang di bawah 12 tahun?” jelas Rico menegaskan.

Kemudian, para orang tua  juga menilai PTM paling tepat dilakukan apabila laporan kasus Covid-19 sudah di angka rendah. Rico menyebut, ada 52 persen responden yang menyatakan pendapat tersebut dalam surveinya.

Rico juga menerangkan, para orang tua yang menjadi respondennya itu mayoritas merasa khawatir dengan potensi penularan virus Covid-19 di sekolah apabila PTM diberlakukan. Menurut dia, ada 60 persen responden yang menyatakan hal tersebut dalam surveinya.

“Publik yang merasa khawatir, alasan teratasnya karena pandemi belum berakhir, yakni 24 persen, dan belum semua divaksin, yakni 14 persen,” kata Rico.

Sementara itu, lanjut dia, sebanyak 24,3 responden menyatakan tidak khawatir terkait penularan Covid-19 di sekolah. Alasan terbanyak responden tak khawatir ada tiga, yaitu  karena merasa sudah divaksin sebesar 20 persen, adanya protokol kesehatan di sekolah 17,5 persen, dan merasa anak-anak sudah bosan menjalani pembelajaran jarak jauh.

“Jadi ini ada perasaan yang bercampur mungkin ya. Pada saat yang bersamaan ingin segera sekolah tatap muka, tapi pada saat yang bersamaan juga khawatir,” kata Rico.

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Erik Purnama Putra (republika)

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *