Senin , 27 September 2021

Survei Sebut Media Arus Utama Masih Dipercaya

Hasil survei menunjukkan, publik masih cukup memercayai media arus utama. Publik menggunakan media arus utama sebagai media konfirmasi untuk informasi yang publik dapatkan dari media baru atau media sosial.

“Alasan pemilihan media arus utama itu rata-rata karena informasinya tepercaya, terutama di surat kabar harian, kemudian kecepatan informasi ada di media siber, kemudian kemudahan akses terutama di televisi,” ujar salah satu peneliti Fizzy Andriani dalam konferensi pers daring, Jumat (20/8).

Penelitian mengenai kepercayaan publik terhadap media arus utama pada masa pandemi Covid-19 yang dilakukan Dewan Pers bersama Universitas Dr Moestopo Beragama menunjukkan kepercayaan pada media arus utama pada 2021 berada di level cukup percaya dan percaya. Media daring cukup dipercaya 47,8 persen, televisi 44,2 persen, radio 40,1 persen, surat kabar mingguan 40,1 persen, dan surat kabar harian 35,8 persen.

Faktor penyajian data dan fakta menjadi faktor utama media arus utama dipercaya. Sebanyak 42,3 persen responden memercayai media daring karena data dan fakta yang disajikan, 26,2 persen karena nama besar media, dan 25,5 persen karena narasumber berita.

Di posisi kedua, media arus utama yang dipercaya oleh publik adalah surat kabar harian. Sebanyak 39,5 responden percaya terhadap surat kabar harian karena data dan fakta yang disajikan, 20,5 persen karena narasumber berita, dan 26,6 persen responden karena nama besar media.

Jika dilihat dari pencarian kebenaran informasi yang dilakukan oleh para responden, media daring merupakan media yang paling tinggi digunakan oleh mereka, yakni 32,51 persen. Di posisi kedua, televisi dan streaming 18,13 persen, sedangkan surat kabar harian di posisi ketiga dengan 8,26 persen responden.

Penelitian juga mencari media apa saja yang diakses pertama kali oleh para responden untuk mendapatkan informasi sehari-hari. Sebanyak 22,5 persen responden memilih Whatsapp sebagai media yang pertama kali diakses untuk mendapatkan informasi, media online 22 persen, dan Instagram 18,7 persen.

“Untuk pemilihan media sosial rata-rata lebih karena kecepatan informasi dan kemudahan akses informasinya. Justru yang menarik informasi tepercayanya rendah,” kata Fizzy.

Para peneliti mengeluarkan sejumlah rekomendasi, yakni media arus utama harus meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM)-nya. Kedua, peningkatan kerja sama antarpers, masyarakat, akademisi, pemerintah untuk pengetahuan digital literasi perlu dilakukan.

Rekomendasi berikutnya, yakni melakukan pengembangan bisnis model perusahan pers dengan pengembangan teknologi, riset, dan pengembangan, serta menggunakan media sosial sebagai saluran untuk media arus utama menyampaikan berita. Terkait informasi Covid-19, keberagaman informasi dari pemerintah dan pakar yang relevan perlu ditampilkan seimbang di media arus utama.

Survei yang dilakukan selama Mei-Juli 2021 merupakan kelanjutan dari penelitian sama pada 2019 atau sebelum berlangsungnya pandemi Covid-19. Survei melibatkan 1.020 responden yang dipilih dengan teknik systematic random sampling, yakni masing-masing 30 sampel per provinsi di 34 provinsi di Indonesia.

Para responden berusia antara 13 hingga 56 tahun. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan distribusi frekuensi dan tabulasi silang.

redaktur : Ratna Puspita reporter : Ronggo Astungkoro

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *