Jumat , 17 September 2021

Taliban Kuasai Afghanistan: Kenapa AS Kecolongan?

Kejatuhan Ibu Kota Kabul dan Istana Kepresidenan Afghanistan ke tangan Taliban mencengangkan banyak pihak.
Pasalnya, perebutan kekuasaan di Afghanistan terjadi setelah Amerika Serikat dan sekutunya mulai menarik pasukan dari negara itu setelah dua dekade menginvasi.

Sejak itu, berbagai tudingan, kritik, hingga kecaman menghujani pemerintahan Presiden Joe Biden yang dinilai melakukan kesalahan fatal dengan tetap menarik pasukan Negeri Paman Sam dari Afghanistan.

Sejak tentara AS dan NATO mulai pulang secara bertahap pada Mei lalu, Taliban kembali bangkit menyerang pasukan pemerintah Afghanistan dan merebut kota-kota utama di negara tersebut.

Taliban bahkan berhasil merebut belasan ibu kota provinsi di Afghanistan dalam hitungan hari, hingga akhirnya menduduki Ibu Kota Kabul pada Minggu (15/8).

Tentara Afghanistan di sejumlah daerah mundur tanpa perlawanan ketika Taliban menyerang. Sebagian pejabat pemerintah Afghanistan, termasuk Presiden Ashraf Ghani, juga kabur ke luar negeri tak lama usai Taliban menduduki Ibu Kota Kabul.

Militer AS pun terlihat tak lagi agresif membantu pasukan Afghanistan sejak sebagian personelnya meninggalkan negara itu.

Banyak pihak mempertanyakan mengapa Amerika terkesan diam dan tak berani mengeluarkan taringnya sekali lagi untuk mempertahankan Afghanistan dari cengkeraman Taliban?

Padahal, salah satu tujuan perang berkepanjangan AS di Afghanistan selama ini adalah untuk menggulingkan rezim Taliban agar tak berkuasa lagi di negara itu.

Mantan Duta Besar AS untuK Afghanistan 2014-2016, P Michael McKinley, mengatakan tragedi yang terjadi di Afghanistan merupakan kesalahan yang tidak dapat ditumpukan pada satu pintu saja.

“Tenggat waktu yang terlalu singkat Biden terkait penarikan pasukan AS dari Afghanistan di tengah pertempuran yang kembali bergolak (dengan Taliban) adalah sebuah kesalahan. Tetapi situasi di lapangan adalah hasil dari dua dekade salah perhitungan dan kebijakan gagal yang diterapkan tiga pemerintahan AS sebelumnya,” kata McKinley dalam artikelnya berjudul We All Lost Afghanistan yang dirilis Foreign Affairs pada 15 Agustus lalu.

McKinley mengatakan “kemenangan Taliban” saat ini juga bentuk kegagalan para pemimpin Afghanistan memerintah dan memperjuangkan masyarakat dan negara mereka.

Selama ini, AS di depan publik selalu berbual dengan memuji-muji pasukan Afghanistan yang mereka latih selama ini sebagai “kekuatan multi-etnis yang sangat profesional, yang dengan cepat menjadi pilar keamanan negara.”

AS pun sering kali memperhitungkan kapabilitas pasukan Afghanistan secara berlebihan. Dalam laporan Pentagon pada 2016 lalu, AS juga menganggap tentara Afghanistan terbaik di kawasan.

Namun, kenyataan di lapangan disebut jauh berbeda. Dalam memo internal pemerintahan AS yang didapat The Washington Post dalam laporan berjudul Unguarderd Nation pada 2019, para pejabat, militer AS, NATO, hingga Afghanistan sendiri mengaku khawatir lantaran menemukan banyak dari pasukan Afghanistan yang masih buta huruf dan tidak terlatih.

Beberapa pihak pun menilai AS selama ini hanya membuang waktu dan uang di Afghanistan. Pasalnya, pasukan Afghanistan merupakan salah satu angkatan bersenjata yang sangat tidak kompeten, dan korup. Banyak pula di antara mereka yang berkhianat.

Mereka menggambarkan pasukan keamanan Afghanistan sebagai tidak kompeten, tidak termotivasi, kurang terlatih, korup, dan penuh dengan pembelot hingga penyusup.

Selain itu, kepemimpinan dalam politik pemerintah Afghanistan tidak pernah sepenuhnya bersatu tentang cara terbaik memerangi Taliban. Ketegangan antar-suku juga kuat terasa dalam politik Taliban.

Di sisi lain, Taliban terbukti tangguh dan kompak tidak hanya sebagai organisasi militer, tetapi juga sebagai gerakan politik. Karena itu, sejak 2001, Taliban terus menikmati dukungan rakyat Afghanistan di beberapa wilayah.

Selama menjabat sebagai dubes di Afghanistan, McKinley pun menyadari betapa beratnya tantangan terhadap strategi AS di negara itu dengan kenyataan-kenyataan tersebut.

Meski sebagian besar tujuan AS di Afghanistan tercapai dalam menumpas Al-Qaidah dan mengurangi ancaman terorisme terhadap Negeri Paman Sam, McKinley menganggap negaranya gagal memberdayakan para pemimpin Afghanistan supaya bisa berdiri di kaki sendiri dan meremehkan kelompok pemberontak di negara itu, termasuk Taliban.

“Kami meremehkan ketahanan Taliban dan kami salah membaca realitas geopolitik di kawasan ini. Saatnya menerima kenyataan, keputusan menuda penarikan pasukan AS satu atau dua tahun lagi tidak akan membuat perbedaan di Afghanistan,” ucap McKinley.

Tanggapan senada juga diutarakan Dosen Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah. Menurutnya, AS sudah terjebak “dalam lumpur 20 tahun penguasaan” atas Afghanistan sehingga tanpa sadar berbuat banyak kesalahan.
Sebagai contoh, Rezasyah menganggap pendekatan AS selama ini ke Afghanistan hanya sebatas materi yakni menggelontorkan triliunan dolar, memberikan senjata, menggaji pemerintah dan tentara, tanpa membangun integrasi sosial dengan para elite negara itu.

“Hasilnya, guyuran uang sekian puluh miliar dolar dari AS selama 20 tahun ternyata tidak berujung memberdayakan masyarakat Afghanistan secara umum, tidak juga membantu membangun infrastruktur dan teknologi negara itu, tapi malah memperkaya industri militer,” ucap Rezasyah kepada CNNIndonesia.com pada Senin (23/8).

Rezasyah menuturkan AS lupa bahwa dalam mengelola suatu wilayah perlu integrasi antara ikan dengan air, dalam hal ini AS dan pemerintah Afghanistan dan kelompok-kelompok yang masih terpecah di negara itu.

Selain itu, Rezasyah juga melihat keengganan AS untuk bertindak membantu Afghanistan keluar lagi dari cengkraman Taliban saat ini adalah karena kelelahan.

“AS pada satu titik sudah merasa kalau ini diteruskan tidak akan membawanya kemana-mana. Saya pikir AS sudah lelah,” kata Rezasyah.

Pernyataan senada juga terlontar dari mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, yang pernah ikut serta dalam proses perdamaian Afghanistan. Dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV pada Minggu (22/8), pria yang kerap disapa JK itu menganggap invasi ke Afghanistan merupakan perang terpanjang yang dilakukan AS.

“AS sendiri sudah sangat letih berada di Afghanistan karena sudah berjalan 20 tahun berperang. Ini perang terpanjang AS dan tidak hasilkan sesuatu yang positif bagi mereka,” ucap JK.

Dalam pernyataan di Gedung Putih, Presiden Biden pun tetap membela keputusannya menarik pasukan AS dari Afghanistan. Ia bahkan menuntut pemerintah Afghanistan berjuang untuk bangsa mereka sendiri.

“Kami telah menghabiskan lebih dari satu triliun dolar selama dua puluh tahun. Kami melatih dan melengkapi peralatan modern lebih dari 300 ribu pasukan,” kata Biden, seperti dikutip CNBC.

Biden kemudian berkata, “Para pemimpin Afghanistan harus bersatu. Mereka harus berjuang untuk diri mereka sendiri, berjuang untuk bangsa mereka.”

(bac)cnnindonesia

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *