Jumat , 30 Juli 2021

Ternyata Ini Penyebab Harga Emas Melejit di Semester I-2019

Emas masih menjadi komoditas yang diminati investor sejak beberapa pekan terakhir. Namun seringkali, emas dibeli bukan untuk investasi melainkan sebagai instrumen pelindung nilai (hedging). Kala investasi pada aset berisiko begitu menakutkan, pelaku pasar menggunakan emas untuk menghindari kerugian yang masif.

Ditilik ke belakang, harga emas memang tercatat naik hingga 6,53% sepanjang semester I-2019. Angka kenaikan tersebut terbilang sangat tinggi. Pasalnya di semester I-2018 kenaikan harga emas hanya 1,01% saja.

Melesatnya harga emas disebabkan oleh sejumlah faktor terkait perekonomian global.

Perang Dagang

Satu sentimen besar yang mendongkrak harga emas adalah eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Pada 13 Mei 2019, Presiden AS, Donald Trump mengeluarkan perintah untuk menaikkan bea impor produk China senilai US$ 200 miliar menjadi 25% (dari yang semula 10%).

Padahal sebelumnya, proses negosiasi dagang yang panjang telah dilakukan oleh pihak AS dan China.

Delegasi perdagangan AS telah berkali-kali terbang ke Beijing untuk melakukan dialog tatap muka dengan negosiator China. Tidak jarang pula tim negosiator China bertandang ke Washington untuk melakukan agenda serupa.

Bahkan hingga awal Mei 2019, aura negosiasi sudah sangat positif. Bahkan kala itu sebuah draft kesepakatan dagang dikabarkan telah selesai dibuat dan siap untuk ditandatangani dalam waktu dekat. 

Namun apa daya. Pada awal Mei 2019 Trump tiba-tiba menuding China telah menarik komitmen dari beberapa poin kesepakatan yang telah dirundingkan sebelumnya. Atas tudingan tersebut, Trump lantas meloloskan aturan tarif baru.

Reaksi China sudah dapat ditebak, yaitu membalas dengan bea impor juga. Pemerintah China mulai 1 Juni 2019 memberlakukan bea impor tambahan antara 5-25% pada produk AS senilai US$ 60 miliar.

Dengan begitu, ‘derajat’ perang dagang AS-China meningkat dari yang sebelumnya pada level tarif 10% menjadi 25%.

Alhasil pelaku pasar makin digentayangi ‘hantu’ perlambatan ekonomi global.

Perlambatan ekonomi global tentu bukan iklim yang mendukung untuk investasi pada aset berisiko. Alhasil emas banyak diburu dan melambungkan harganya.

Harapan Penurunan Suku Bunga Acuan The Fed

Pasca pasca komite pengambil kebijakan (FOMC) The Fed menggelar rapat pada 19 Juni 2019, Gubernur The Fed, Jerome Powell mengumumkan keputusan untuk menahan suku bunga di kisaran 2,25-2,5%.

Namun, nada-nada dovish dalam pidato Powell membuat pelaku pasar semakin yakin bahwa suku bunga akan diturunkan di bulan selanjutnya.

“Pertanyaannya adalah, apakah risiko-risiko ini akan membebani prospek perekonomian? Kami akan bertindak jika dibutuhkan, termasuk kalau memungkinkan, menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga ekspansi (ekonomi),” tuturnya, mengutip Reuters.

Powell juga mengatakan bahwa The Fed akan menunda normalisasi neraca bila suku bunga diturunkan. Hal itu akan berdampak pada peningkatan likuiditas yang cukup signifikan.

Setelah pidato tersebut, probabilitas The Fed menurunkan suku bunga25 basis poin pada bulan Juli melonjak ke level 73,9%, seperti dikutip dari CME Fedwatch. Sehari sebelumnya, angka probabilitas skenario tersebut masih 68,5%.

Tanpa suku bunga yang yang memadai, dolar AS seakan kurang fondasi dalam menghadapi gempuran mata uang lain. Nilainya jadi rentan terkoreksi.

Dampaknya, emas menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Hal itu terjadi karena emas ditransaksikan dalam dolar. Tak heran investor gencar memburu emas dan membuat harganya meroket.

Harga Emas Sudah Tinggi?

Meski demikian, nyatanya secara rata-rata harga emas di tahun ini masih lebih rendah dibanding tahun 2018.

Tercatat sepanjang semester I-2019, rata-rata harga emas berada di level US$ 1.315,18/troy ounce. Sementara pada periode yang sama tahun 2018, rata-rata harga emas mencapai US$ 1.322,18/troy ounce.

sumber : cnbc Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *