Senin , 18 Oktober 2021

Utang BRI Negara Miskin Capai 385 Miliar Dolar AS

Lembaga penelitian AidData menemukan, total utang 165 negara ke Cina melalui proyek Belt and Road Initiative (BRI) mencapai 365 miliar dolar AS. Namun, pinjaman tersebut tidak dilaporkan ke lembaga internasional seperti Bank Dunia.

Sejak awal BRI memang kontroversial dan kini beberapa pemerintah membatalkan proyek-proyek tersebut. Penelitian yang memakan waktu selama empat tahun itu menemukan beban utang disimpan di neraca publik menggunakan istilah pinjaman semiswasta dan bertujuan khusus.

AIdData memeriksa lebih dari 13 ribu proyek BRI senilai lebih dari 843 miliar dolar di 165 negara dari tahun 2000 hingga 2017. “(Pinjaman ini) jauh lebih besar dari yang diketahui oleh institusi penelitian, lembaga pemeringkat kredit, atau organisasi antar-pemerintah yang memiliki tanggung jawab pemantauan kredit,” kata AidData seperti dikutip the Guardian, Jumat (1/10).

AidData menemukan utang 42 negara pendapat rendah (LMIC) ke Cina termasuk Papua Nugini, Maladewa, Brunei, Kamboja, dan Myanmar melampuai 10 persen dari produk domestik bruto (PDB) mereka. AidData mengatakan, Laos memiliki utang “tersembunyi” yang sangat banyak.

“Sebagian besar utang ini tidak tampak dalam neraca pemerintah LMIC, tetapi sebagian besar dari mereka mendapatkan manfaat baik eksplisit maupun implisit dari perlindungan pemerintah tuan rumah yang mengaburkan antara utang swasta dan publik,” kata AidData.

Proyek kereta Cina-Laos yang didanai utang tak resmi senilai 5,9 miliar dolar AS mencakup sepertiga PDB Laos. Ratusan negara pendapatan rendah menandatangani kesepakatan pinjaman dengan Cina untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur besar.

AidData melaporkan, pinjaman Cina yang sebelum BRI lebih banyak dari negara ke negara. Kini hampir 70 persen pinjaman itu dilakukan dengan perusahaan milik pemerintah, dengan bank, joint ventures, institusi swasta, dan wahana tujuan khusus (SPVs) Cina.

Pada 2013 lalu, Presiden Cina Xi Jinping meluncurkan proyek BRI sebagai program investasi internasional Cina. Lebih dari 100 negara telah menandatangani BRI yang sudah lama dinilai tidak transparan.

Besarnya utang pada negara-negara berisiko tinggi memungkinkan “diplomasi buku utang” di beberapa negara. Akibatnya, mereka terpaksa menyerahkan aset ke Beijing karena tidak bisa membayar utang.

Tetapi kini proyek BRI mendapat saingan dari kelompok negara kaya, yaitu G-7 yang meluncurkan inisiatif yang dikenal Build Back Better World (B3W). B3W serupa dengan BRI yakni memberikan bantuan finansial pada negara-negara berkembang untuk membangun infrastrukturnya.

Salah satu anggota G-7, Amerika Serikat, giat memperkenalkan B3W. Salah satunya dilakukan Deputi Penasihat Keamanan Nasional AS Daleep Singh ke sejumlah negara.

“Tujuan dari perjalanan kami adalah untuk menunjukkan bahwa demokrasi selalu menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan hasil dari tugas dan rakyat di seluruh dunia,” kata Singh saat mempromosikan B3W di Panama, Rabu (29/9).

“Untuk mewujudkannya, kita harus menciptakan aliansi yang mampu menghadapi tantangan, termasuk gap infrastruktur yang lebar,” katanya menambahkan. 

Sumber : Reuters (republika)

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *