Senin , 18 Oktober 2021

Warga Gaza soal Pemimpin Israel Ganti: Mereka Semua Jahat

Warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza memberikan respons mereka atas perubahan pemerintahan Israel. Sebagian besar di antara mereka menolak perubahan tersebut.

Penolakan disampaikan karena mereka memperkirakan pemimpin nasionalis baru yang akan menggantikan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memiliki agenda sama dengan pendahulunya.

Perwakilan dari Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Bassem Al-Salhi misalnya, mengatakan sikap perdana menteri Israel yang baru tidak kalah ekstrem dari Netanyahu.

“Dia juga akan memastikan untuk mengungkapkan betapa ekstremnya dia di pemerintahan,” katanya seperti dikutip dari Reuters, Jumat (4/6).

Pandangan serupa juga disuarakan Ahmed Rezik (29). Pegawai pemerintah Palestina di Gaza ini mengatakan pergantian kepemimpinan Israel tidak akan memberikan dampak apa-apa kepada kemerdekaan Palestina.

“Ya karena tidak ada perbedaan antara satu pemimpin Israel dengan yang lain. Mereka baik atau buruk kan bagi bangsa mereka. Dan ketika itu datang kepada kami, mereka semua jahat, dan mereka semua menolak untuk memberikan hak dan tanah mereka kepada orang-orang Palestina,” katanya.

Badri Karam (21) warga Gaza lainnya menyatakan pemimpin baru Israel merupakan pengkhianat.

“Dia pengkhianat. Apa yang akan dia lakukan ketika mereka memintanya untuk memilih meluncurkan perang baru di Gaza? Apakah dia akan menerimanya, menjadi bagian dari pembunuhan warga Palestina?” katanya.

Sementara itu Hamas, kelompok Islam yang menguasai Jalur Gaza, mengatakan perubahan kepemimpinan Israel tetap saja tidak akan berdampak pada hak-hak warga Palestina. Pandangan itu mereka sampaikan dengan berkaca pada pengalaman masa lalu.

“Palestina telah melihat lusinan pemerintah Israel sepanjang sejarah, kanan, kiri, tengah, begitu mereka menyebutnya. Tetapi mereka semua bermusuhan ketika menyangkut hak-hak rakyat Palestina kami dan mereka semua memiliki kebijakan ekspansionisme yang bermusuhan, ” kata juru bicara Hamas, Hazem Qassem.

Sebagai informasi, Naftali Bennett yang merupakan mantan kepala organisasi pemukim utama Israel di Tepi Barat, akan menjadi pemimpin baru Israel. Kursi didapatnya di bawah koalisi tambal sulam yang dibentuk oleh oposisi Israel pada Kamis (3/6) kemarin.

Bennett sendiri merupakan pendukung kuat Israel untuk mencaplok bagian-bagian Tepi Barat yang direbut dan diduduki Israel dalam perang 1967.

Usai mendapatkan kursinya tersebut, Bennett menyatakan konflik yang terjadi di Gaza selama ini lebih banyak dipicu oleh kesalahan orang-orang Palestina.

“Kebenaran harus diberitahukan. Perjuangan nasional antara Israel dan Palestina bukanlah atas wilayah. Orang-orang Palestina tidak mengakui keberadaan kami di sini, dan tampaknya ini akan terjadi untuk beberapa waktu,” katanya kepada Saluran 12 Israel.

(reuters/agt)cnnindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *