Selasa , 26 Oktober 2021

Was-was Orang Tua Jelang Sekolah Dibuka

Orang tua mengaku masih was-was dengan rencana pembelajaran tatap muka (PTM) yang akan diberlakukan mulai Tahun Ajaran 2020/2021. Kekhawatiran itu utamanya terkait penerapan protokol kesehatan pencegahan virus corona di sekolah.

“Kalau aku perasaan was-was masih ada sedikit. Orang-orang (siswa) seumuran itu (usia SMA) mungkin kan masih abai, masih dekat-dekatan. Jadi tentu aku masih was-was,” kata Rulyanti ketika mengungkapkan kekhawatirannya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (8/6).

Rulyanti merupakan orang tua dari seorang siswa jenjang SMA di DKI Jakarta. Sejak baru masuk di bangku kelas 10, anaknya melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan tidak pernah bertemu dengan teman-teman di sekolah.

Kondisi ini sebenarnya juga membuat Rulyanti khawatir. Ia mengatakan anak bungsunya yang terbilang pendiam, jadi semakin kecil kesempatan yang dimiliki untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Namun kekhawatiran itu masih kalah dengan ketakutan Rulyanti jika anaknya terpapar covid-19 di sekolah. Meskipun dampak virus terhadap anak-anak umumnya lebih tidak berbahaya, namun ia mengingatkan banyak anggota keluarga di rumah yang belum divaksin dan rentan karena memiliki komorbid.

“Nanti di hari pertama buka sekolah aku bakal datang dulu sendiri ke sekolah. Mau lihat bagaimana protokol kesehatan di sana. Kalau aku merasa aman, baru besoknya dia boleh masuk. Kalau nggak aman, ya lebih baik masih di rumah saja,” tuturnya.

Rulyanti mengungkap protokol kesehatan di sekolah yang menurutnya aman misalnya menerapkan pemeriksaan suhu pada setiap anak, memastikan semua anak rajin mencuci tangan dan menggunakan hand sanitizer, serta penyemprotan disinfektan secara rutin.

Ia meragukan hal ini bisa dilakukan sekolah dengan sumber daya yang terbatas. Menurutnya pengawasan protokol kesehatan oleh guru dan tenaga kependidikan harus dilakukan dengan sangat ketat.

Hal serupa juga dirasakan Karina, orang tua dari anak di jenjang PAUD di DKI Jakarta. Karena pandemi, ia memutuskan tidak mendaftarkan anaknya ke sekolah konvensional dan memilih bimbingan belajar.

Karina menilai kondisi pandemi saat ini belum aman bagi anaknya untuk kembali belajar di sekolah. Keputusannya itu pun didukung oleh banyak teman yang memiliki anak dengan usia serupa.

“Karena pada takut nggak efektif kalau sekolah online. Tapi juga belum berani ngebolehin anaknya sekolah offline. Aku juga belum berani, karena kasusnya masih naik-turun,” katanya kepada CNNIndonesia.com.

Meskipun banyak yang berargumen dampak Covid-19 tidak berbahaya bagi anak, Karina tak mau mengambil risiko. Menurutnya, bukan tidak mungkin ternyata sang anak memiliki imunitas rendah melawan virus ketika terpapar covid-19.

Lagi pula, lanjut dia, jika anaknya terpapar virus di sekolah, maka akan besar potensi anaknya menularkan virus ke orang-orang di rumah. Ia tak ingin hal itu sampai terjadi ketika mengizinkan anak bersekolah.

Karina mengatakan baru akan mempertimbangkan mengizinkan anaknya belajar tatap muka jika sekolah bisa menjamin penerapan protokol kesehatan yang ketat. Ia menekankan jaminan itu juga tidak bisa hanya sekedar pernyataan.

“Masalahnya banyak fasilitas umum yang cuma asal bikin statement ‘kami menerapkan protokol kesehatan dengan 3M dan sebagainya. Kenyataannya banyak yang nggak tertib juga, karena dianggap menyita waktu, biayanya jadi mahal,” sambung Karina.

(fey/bmw)cnnindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *