Jumat , 30 Juli 2021

Waspadai Lonjakan Kasus COVID-19 Pada Anak, Ini Tips Bagi Orang Tua

Meningkatnya kasus COVID-19 pada anak menjadi peringatan bagi orang tua untuk waspada. Beradasarkan data dari Satgas COVID-19 per 17 Juni 2021, persentase kasus COVID-19 pada anak usia sekolah sebesar 12,51% atau sebanyak 235.527 kasus. Meskipun sampai saat ini kegiatan pembelajaran tatap muka masih ditiadakan, anak yang di rumah saja masih memliki resiko tertular dari keluarga yang beraktivitas di luar rumah (kontak erat). Sementara bagi yang remaja, bisa tertular dari keluarga maupun aktivitasnya ketika keluar rumah karena protokol kesehatan yang tidak disiplin.

“Hal yang utama bagi orang tua di masa pandemi saat ini adalah mampu menjaga anak-anak agar terhindar dari penularan” ujar dr. Reisa Broto Asmoro dalam talkshow yang disiarkan di Radio Kesehatan pada Senin (28/6).

Secara umum gejala COVID-19 pada anak sama dengan orang dewasa atau bahkan tanpa memiliki gejala. Anak juga belum bisa menyampaikan apa yang dirasakannya. Terkadang gejala yang muncul hanya rewel atau nafsu makan yang menurun. Orang tua dituntut aktif untuk bisa mengetahui bagaimana kondisi kesehatan anak. Untuk memastikan apakah anak terkena COVID-19 atau tidak, orang tua bisa melakukan pengetesan dengan menggunakan metode PCR. Untuk waktu pengetesannya bisa dilakukan saat anak menunjukan gejala atau menjadi kontak erat dari orang yang terkonfirmasi positif COVID-19.

Sebagai bentuk pencegahan penularan COVID-19, anak-anak perlu diberikan edukasi tentang pandemi yang terjadi dan bagaimana cara pencegahannya. Meski saat ini dianjurkan memakai masker ganda namun ini tidak berlaku untuk anak dengan usia di bawah 2 tahun. Hal ini dikarenakan anak usia tersebut tidak disarankan untuk menggunakan masker karena belum bisa menggunakan masker dengan baik dan benar. Agar anak terhindar dari penularan COVID-19 orang tua tidak membawa anak keluar rumah.

“Bukan berarti anak tidak sarankan pakai masker lalu kemudian anak tidak dipakaikan masker. Anak pakai masker hanya dalam keadaan darurat atau jika harus berada di tempat dengan resiko penularan tinggi” ucap Dokter Reisa.

Untuk ibu yang ingin memberikan asupan ASI pada anaknya pastikan tidak ada kontak langsung antara mulut dan hidung. Ibu dianjurkan untuk tetap pakai masker saat proses menyusui. Setelah meyusui, ibu dan anak harus dipisah dalam ruangan berbeda. Jika ibu mengalami gejala yang berat disarankan untuk tidak menyusui secara langsung atau memberikan ASI perah.

“Orang tua memegang peran penting dalam penerapan protokol kesehatan. Kita harus memulai proteksi dari dalam rumah agar anak-anak dan anggota keluarga lain bisa terhindar dari COVID-19” pungkas Dokter Reisa.

(rv) (Sumber: Talkshow Radio Kesehatan via Suara Celebes FM Makasar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *